Teks dalam gambar merupakan bagian awal dari buku Jalan Menuju Iman—salah satu kitab dasar pemikiran Hizbut Tahrir (HT). Intinya, bacaan tersebut mencoba membangun fondasi ideologis yang disebut al-‘aqliyah (rasionalitas), lalu menggunakannya untuk membuktikan keberadaan Tuhan dan pembenaran sistem Islam versi mereka.
Namun, terdapat beberapa masalah mendasar dalam argumen tersebut: dari sisi logika, epistemologi, dan metodologi teologi.
1. Klaim bahwa Akidah Islam Harus Dibangun Semata dari Akal: Sebuah Penyederhanaan Teks ini berulang kali menegaskan bahwa:
“Islam dibangun di atas satu dasar, yaitu akidah… pengakuan yang betul-betul muncul dari akal.”
Pendapat ini memiliki dua masalah besar:
a. Tradisi Islam tidak satu suara bahwa akidah dibangun murni oleh akal
Dalam teologi Islam klasik:
Asy’ariyah menempatkan akal sebagai alat mengenal Tuhan, namun wahyu tetap menjadi sumber utama.
Maturidiyah mengakui peran akal, namun tetap menimbang wahyu sebagai landasan mutlak.
Salafi/Atsari menolak spekulasi akal dan meletakkan wahyu sebagai sumber pertama.
HTI, melalui Jalan Menuju Iman, memilih pendapat bahwa seluruh akidah harus dibuktikan secara rasional murni, yang bukan posisi mayoritas ulama.
b. Pemikiran ini menciptakan kesan bahwa wahyu hanya pembenaran belakangan
HTI memulai dari premis rasional untuk seluruh akidah, kemudian baru menerima wahyu. Ini menghasilkan akidah yang lebih filosofis daripada teologis, mirip metode Mu’tazilah, tetapi dengan kesimpulan politik yang berbeda.
2. Penyamaan Akal dengan Wahyu Menimbulkan Bias Ideologis
Teks tersebut menegaskan bahwa:
“Pengakuan terhadap akidah harus muncul dari akal.”
Namun setelah itu, seluruh struktur berpikir diarahkan untuk menerima:
eksistensi Tuhan versi tertentu,
sifat wajibul wujud,
konsep khalq (penciptaan),
dan akhirnya sistem politik HTI.
Artinya, proses “rasional” itu sebenarnya diarahkan ke konklusi yang sudah ditentukan.
Ini melemahkan klaim objektivitas.
3. Penggunaan Istilah Filsafat tetapi Tidak Menggunakan Metodologi Filsafat
HTI mengklaim menggunakan metode filsafat, namun:
Tidak menggunakan epistemologi ilmiah.
Tidak mengulas argumen lawan secara memadai.
Tidak menyajikan analisis komparatif dengan mazhab teologi Islam lainnya.
Tidak menggunakan standar validitas logika modern.
Dengan demikian, teks ini lebih merupakan doktrin ideologis, bukan kajian filsafat yang netral.
5. Tujuan Akhir adalah Politik, Bukan Teologi
Buku Nizhamul Islam adalah kitab dasar Hizbut Tahrir. Bacaan ini merupakan “fondasi ideologis” menuju gagasan Khilafah. Karena itu:
Pembuktian Tuhan hanyalah langkah awal untuk legitimasi proyek politik.
Argumen teologis disusun agar menghasilkan kesimpulan bahwa hanya sistem HTI yang “logis”.
Akidah dijadikan basis untuk kewajiban menegakkan negara Islam.
Ini berbeda dengan tradisi ulama yang memisahkan antara akidah dan hukum politik.
Kesimpulan Kritik
Bacaan tersebut berusaha membangun akidah melalui pendekatan rasional untuk menegaskan keberadaan Tuhan dan sifat-sifat-Nya. Namun:
Argumen logikanya terlalu sederhana.
Tidak mencerminkan keberagaman teologi Islam.
Tidak mengikuti standar filsafat modern.
Digunakan sebagai pintu masuk ideologi politik HTI.
Mengklaim objektivitas padahal bersifat dogmatis.
Referensi (Format APA 7th Edition) Buku & Artikel Akademik
-
Al-Attas, S. M. N. (1995). Prolegomena to the Metaphysics of Islam. ISTAC.
-
Al-Ghazali. (2000). The Incoherence of the Philosophers. Brigham Young University Press.
-
Brown, J. A. C. (2009). Hadith: Muhammad’s Legacy in the Medieval and Modern World. Oneworld.
-
Oppy, G. (2006). Arguing About Gods. Cambridge University Press.
-
Mackie, J. L. (1982). The Miracle of Theism. Oxford University Press.
-
Rahman, F. (1979). Islam. University of Chicago Press.
-
Watt, W. M. (1998). Islamic Philosophy and Theology. Edinburgh University Press.
-
Wood, C. (2014). The Cosmological Argument: A Reassessment. Philosophy Compass, 9(3).
Penelitian tentang Hizbut Tahrir
-
Taji-Farouki, S. (1996). A Fundamental Quest: Hizb al-Tahrir and the Search for the Islamic Caliphate. Grey Seal.
-
International Crisis Group. (2016). Hizbut Tahrir: Indonesia’s Radical Middle. ICG Asia Report.