Kesalahan Kitab Mafahim Hizbut Tahrir

Kritik Terhadap Kitab Mafāhīm Hizbut Tahrir

Analisis Kesalahan Metodologis dan Konseptual

Pendahuluan

Kitab Mafāhīm Hizbut Tahrir karya Taqiyuddin an-Nabhani merupakan salah satu rujukan utama ideologis Hizbut Tahrir. Buku ini bertujuan membangun kerangka pemikiran (fikrah) dan metode penerapan (thariqah) Islam versi Hizbut Tahrir, khususnya dalam konteks pendirian kembali Daulah Khilafah. Namun, jika dianalisis secara ilmiah, kitab ini mengandung sejumlah kesalahan metodologis, penyederhanaan sejarah, dan klaim normatif yang problematis.


1. Kesalahan Reduksi Sebab Kemunduran Dunia Islam

Klaim Kitab

Mafāhīm Hizbut Tahrir menyatakan bahwa penyebab utama kemunduran dunia Islam adalah lemahnya pemahaman umat terhadap Islam, terutama akibat ditinggalkannya bahasa Arab dan tercampurnya Islam dengan filsafat asing .

Kritik

Pendekatan ini reduksionis dan ahistoris, karena:

  • Mengabaikan faktor politik kolonialisme, kehancuran ekonomi, dan eksploitasi struktural.
  • Menyederhanakan sejarah panjang dunia Islam menjadi semata-mata kesalahan intelektual umat.

Perbandingan Referensi

  • Ibn Khaldun menekankan bahwa runtuhnya peradaban lebih disebabkan oleh kerusakan sistem politik, ketidakadilan, dan melemahnya solidaritas sosial (‘ashabiyyah), bukan sekadar kesalahan akidah.
  • Marshall Hodgson menunjukkan bahwa kolonialisme Eropa modern memiliki dampak struktural besar terhadap dunia Islam.

➡️ Kesalahan utama HT: menjadikan ideologi sebagai satu-satunya kunci sejarah.


2. Dikotomi Kaku antara Fikrah dan Thariqah

Klaim Kitab

HT menganggap kebangkitan Islam gagal karena tidak menyatukan fikrah (pemikiran) dan thariqah (metode), serta menyalahkan umat karena fokus pada ibadah individual saja .

Kritik

  • Dalam tradisi Islam klasik, fikih, tasawuf, dan akhlak tidak pernah dipisahkan secara dikotomis.
  • Kitab ini memaksakan kerangka ideologis modern ke dalam Islam klasik.

Perbandingan Referensi

  • Al-Ghazali menolak pemisahan kaku antara aspek spiritual dan sosial-politik.
  • Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa penerapan syariat selalu mempertimbangkan maqāṣid al-syarī‘ah dan konteks sosial.

➡️ Kesalahan HT: menjadikan metode politik tertentu seolah-olah satu-satunya metode Islam.


3. Kesalahan Tafsir terhadap QS At-Taubah [9]: 122

Klaim Kitab

Kitab ini menyatakan bahwa ayat tersebut adalah ayat jihad, bukan dalil fardhu kifayah belajar agama, dan menilai tafsir mayoritas ulama sebagai kesalahan .

Kritik

  • Ini bertentangan dengan ijma’ tafsir klasik.
  • Penafsiran HT bersifat ideologis, bukan akademik.

Perbandingan Referensi

  • Tafsir al-Tabari, Ibn Kathir, dan al-Qurtubi sepakat bahwa ayat ini menunjukkan:

    • Belajar agama secara mendalam adalah fardhu kifayah
    • Bukan semata konteks jihad fisik

➡️ Kesalahan HT: mengabaikan konsensus ulama demi agenda ideologis.


4. Konsep Jihad yang Problematis

Klaim Kitab

HT mendefinisikan jihad ofensif sebagai instrumen utama penyebaran Islam dan menolak tafsir defensif jihad .

Kritik

  • Mengabaikan prinsip:

    • La ikraha fid din
    • Maqashid perlindungan jiwa
  • Berpotensi melegitimasi kekerasan politik.

Perbandingan Referensi

  • Yusuf al-Qaradawi: jihad bersenjata bersifat defensif dan kontekstual.
  • Muhammad Abu Zahrah: ekspansi militer klasik tidak bisa dilepaskan dari konteks geopolitik abad pertengahan.

➡️ Kesalahan HT: menggeneralisasi praktik sejarah sebagai hukum mutlak.


5. Klaim Kemurnian Pemikiran yang Tidak Ilmiah

Klaim Kitab

HT mengklaim seluruh pemikirannya “murni Islam” dan tidak terpengaruh ideologi luar .

Kritik

  • Konsep ideologi (mabda’) sendiri adalah produk pemikiran modern.
  • Struktur organisasi HT sangat menyerupai partai ideologis modern, bukan model klasik Islam.

Perbandingan Referensi

  • Wael B. Hallaq: negara Islam modern tidak bisa disamakan dengan sistem syariah klasik.
  • Abdullahi an-Na’im: klaim “Islam murni” sering menutup diskusi kritis.

➡️ Kesalahan HT: absolutisme epistemologis.


Kesimpulan

Mafāhīm Hizbut Tahrir bukan kitab ilmiah netral, melainkan teks ideologis-politik yang:

  1. Mereduksi sejarah Islam secara simplistik
  2. Menyimpang dari metodologi tafsir klasik
  3. Mengklaim kebenaran tunggal
  4. Menginstrumentalisasi agama untuk tujuan politik

Kritik akademik terhadap kitab ini penting agar umat tidak menerima gagasan keagamaan secara dogmatis tanpa verifikasi ilmiah.


Referensi (Format APA)

Format yang digunakan: APA Style (American Psychological Association) Alasan:

  • Umum dipakai dalam kajian sosial-keagamaan
  • Sistematis dan akademik
  • Cocok untuk artikel kritis

Contoh Referensi:

  • An-Nabhani, T. (2011). Mafahim Hizbut Tahrir. Jakarta: Hizbut Tahrir Indonesia.
  • Al-Tabari, M. bin J. (2001). Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān. Beirut: Dar al-Fikr.
  • Ibn Kathir, I. (1999). Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm. Riyadh: Dar Tayyibah.
  • Al-Ghazali, A. H. (2004). Ihya’ ‘Ulum al-Din. Beirut: Dar al-Ma’rifah.
  • Hallaq, W. B. (2013). The Impossible State. New York: Columbia University Press.