Kritik Terhadap Pemahaman Ideologi Hizbut Tahrir

Kritik Terhadap Pemikiran dalam Teks Nizhamul Islam: “Jalan Menuju Iman”

Teks dalam buku Nizhamul Islam menjelaskan bahwa manusia hanya dapat membangun mafahim (pemahaman ideologis) melalui pemikiran metafisika mendalam mengenai alam semesta, manusia, dan hidup. Pemikiran yang benar diklaim hanya lahir dari al-qa’idatul fikriyah dan penyelesaian al-uqdatul kubra. Meski terlihat filosofis, pendekatan ini memiliki beberapa kelemahan epistemologis dan metodologis.


1. Pendekatan Pengetahuan yang Reduksionis

Teks tersebut menyatakan seolah ada satu jalan tunggal untuk memahami kehidupan, yakni melalui struktur pemikiran metafisika tertentu. Pendekatan ini mengabaikan realitas bahwa pengetahuan manusia berasal dari berbagai sumber seperti empirisme, rasionalisme modern, fenomenologi, hingga sains kontemporer.

Dalam filsafat pengetahuan modern, manusia tidak dibatasi hanya oleh satu model berpikir. Karl Popper (2002) menekankan bahwa pengetahuan berkembang melalui kritik dan falsifikasi, bukan oleh kesimpulan metafisika tunggal. Demikian pula, pemikiran Thomas Kuhn (2012) menunjukkan bahwa perkembangan ilmu terjadi melalui pergeseran paradigma, bukan melalui kebenaran unik yang final.


2. Konsep Al-Uqdatul Kubra sebagai Penyederhanaan Berlebihan

Teks menyatakan bahwa jika seseorang memahami “persoalan terbesar tentang manusia, alam, dan hidup”, maka seluruh masalah kehidupan akan terpecahkan. Konsep ini problematik karena:

Masalah manusia bersifat multidimensi: ekonomi, politik, sosial, biologis, psikologis.

Penyelesaian metafisik tidak serta-merta menyelesaikan problem dunia nyata.

Sebagaimana dijelaskan oleh Amartya Sen (1999), persoalan manusia seperti kemiskinan, ketidaksetaraan, dan konflik sosial membutuhkan solusi empiris dan kebijakan nyata, bukan hanya jawaban filosofis.


3. Konflik dengan Metode Keilmuan Modern

Teks menempatkan “pemikiran ideologis menyeluruh” sebagai dasar kebenaran. Namun, metode ilmiah modern didasarkan pada:

observasi,

uji coba,

koreksi berkelanjutan,

keterbukaan pada perubahan.

Jonathan Rauch (1993) menegaskan bahwa sistem pengetahuan terbuka—yang menerima kritik dan revisi—lebih mampu melahirkan kebenaran praktis dibanding sistem dengan satu kebenaran absolut.


4. Kecenderungan Dogmatis

Walaupun menggunakan istilah filosofis, teks tersebut memulai dengan kesimpulan metafisika tertentu—bahwa ada satu penjelasan absolut tentang penciptaan, tujuan hidup, dan alam semesta—lalu menyesuaikan realitas agar sesuai dengannya.

Dalam filsafat, pendekatan ini disebut dogmatis, yaitu menetapkan kesimpulan terlebih dahulu sebelum argumentasi (Russell, 2010). Pemikiran kritis yang sehat justru dimulai dengan keterbukaan terhadap ketidakpastian dan evaluasi ulang terhadap asumsi sendiri.


5. Pengabaian Realitas Empiris Kehidupan Manusia

Teks mengklaim bahwa ketenangan dan kebangkitan manusia hanya dapat dicapai melalui al-fikrul mustanir. Namun data empiris menunjukkan bahwa:

Kesejahteraan manusia sangat dipengaruhi faktor sosial dan material (Wilkinson & Pickett, 2011).

Ketenangan psikologis dapat diperoleh melalui banyak bentuk pengalaman manusia—bukan hanya melalui refleksi metafisika tunggal (Frankl, 2006).

Artinya, klaim eksklusif mengenai jalan menuju “kebangkitan” atau “ketenangan” tidak sesuai dengan realitas kehidupan manusia yang kompleks.


Kesimpulan

Teks Nizhamul Islam berupaya memberikan struktur pemikiran metafisika tentang manusia dan kehidupan, namun mengandung beberapa kelemahan:

Reduksionis dan menyempitkan metode mengetahui.

Mengabaikan perkembangan ilmu pengetahuan.

Mengandung kecenderungan dogmatis.

Tidak berpijak pada realitas empiris kehidupan manusia.

Pemikiran seperti ini perlu dilihat secara kritis, bukan diterima sebagai satu-satunya penjelasan tentang realitas. Pendekatan pengetahuan harus bersifat terbuka, dinamis, dan berdasarkan bukti.


Daftar Referensi (APA)

Frankl, V. E. (2006). Man’s Search for Meaning. Beacon Press.

Kuhn, T. S. (2012). The Structure of Scientific Revolutions (4th ed.). University of Chicago Press.

Popper, K. (2002). The Logic of Scientific Discovery. Routledge.

Rauch, J. (1993). Kindly Inquisitors: The New Attacks on Free Thought. University of Chicago Press.

Russell, B. (2010). History of Western Philosophy. Routledge.

Sen, A. (1999). Development as Freedom. Oxford University Press.

Wilkinson, R., & Pickett, K. (2011). The Spirit Level: Why Greater Equality Makes Societies Stronger. Bloomsbury.