Kritik BAB Jalan Menuju Iman dari Buku Hizbut Tahrir

ARTIKEL KRITIK TERHADAP PERNYATAAN “JALAN MENUJU IMAN”

Pendahuluan

Teks “Jalan Menuju Iman” yang dikutip dari buku Nizhamul Islam berusaha menjelaskan bahwa kebangkitan manusia sepenuhnya ditentukan oleh pemikirannya tentang hidup, alam semesta, manusia, dan hubungan ketiganya dengan Tuhan. Namun, terdapat sejumlah masalah mendasar dalam argumen tersebut, baik secara filosofis, psikologis, maupun teologis. Artikel ini menguraikan kritik terhadap beberapa bagian penting dari pernyataan tersebut.


1. Penyederhanaan Berlebihan tentang Sumber Perubahan Manusia

Penulis teks menyatakan bahwa perubahan manusia hanya bisa terjadi melalui perubahan pemikirannya (mafahim). Pandangan ini terlalu reduksionis, karena psikologi modern menunjukkan bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh banyak faktor lain:

Lingkungan sosial

Trauma dan pengalaman masa kecil

Kondisi ekonomi

Akar biologis dan neurologis

Kebiasaan yang terbentuk otomatis tanpa pemikiran sadar (B. F. Skinner, 1953)

Dengan demikian, menganggap bahwa perubahan perilaku hanya bisa melalui perubahan konsep berpikir adalah penyederhanaan yang tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan kontemporer.


2. Tidak Mengakui Peran Emosi dan Naluri

Teks tersebut menyatakan bahwa perilaku manusia sepenuhnya terbentuk dari mafahim (pemikiran). Padahal, riset neurologi menunjukkan bahwa:

Emosi mempengaruhi keputusan manusia lebih besar daripada logika (Damasio, Descartes’ Error, 1994).

Naluri, ketakutan, dan bias kognitif sering memengaruhi manusia tanpa melalui proses berpikir rasional.

Dengan kata lain, manusia bukan makhluk yang berperilaku hanya berdasarkan pemahaman intelektual, sebagaimana yang diasumsikan teks.


3. Klaim Teologis yang Tidak Diberi Dasar Dalil

Penulis menutup paragraf dengan pernyataan bahwa untuk mengubah manusia, mafahim-nya harus diubah terlebih dahulu, lalu menyebut bahwa “Allah SWT berfirman”. Namun, kutipan ayat tidak ditampilkan dalam halaman tersebut. Sementara itu:

Tidak ada ayat Qur’an yang secara eksplisit menyatakan bahwa perilaku manusia hanya berubah melalui perubahan mafahim.

Qur’an justru menekankan kombinasi antara hati, iman, amal, dan lingkungan sosial (QS. Ar-Ra’d:11 tidak hanya soal “merubah pikiran”, tetapi “keadaan diri secara menyeluruh”).

Dengan kata lain, teks tersebut menggunakan legitimasi agama tetapi tidak menunjukkan dalil yang kuat.


4. Potensi Manipulasi Melalui Konsep “Mafahim”

Penekanan bahwa “manusia bisa dibentuk melalui mafahim” membuka ruang bagi:

Indoktrinasi

Pembentukan pola pikir tunggal

Penggantian identitas seseorang dengan konsep kelompok

Pola ini mirip dengan metode kelompok ideologis tertutup yang mengutamakan pengendalian cara berpikir anggota agar sesuai ideologi.

Ini dapat berbahaya jika digunakan oleh kelompok tertentu untuk mengarahkan pikiran seseorang kepada tujuan politik atau ideologi tertentu.


5. Tidak Mengakui Keragaman Manusia

Pernyataan bahwa semua perilaku manusia ditentukan oleh mafahim bersifat generalisasi, seolah manusia di seluruh dunia berpikir dan bertindak dengan pola yang sama. Padahal:

Antropologi menunjukkan bahwa nilai, tingkah laku, dan reaksi manusia sangat dipengaruhi budaya (Geertz, 1973).

Filsafat moral menegaskan bahwa nilai tidak hanya dibentuk oleh pemikiran, tetapi oleh tradisi, pengalaman, dan interaksi sosial.

Dengan demikian, argumen tersebut tidak mencerminkan kompleksitas realitas manusia.


Kesimpulan

Pernyataan dalam “Jalan Menuju Iman” mengandung kelemahan logis, psikologis, dan teologis, terutama karena menyederhanakan proses perubahan manusia hanya melalui pemikiran. Kritik ini menunjukkan bahwa manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar kumpulan konsep intelektual (mafahim), dan perubahan diri membutuhkan faktor multidimensional: hati, lingkungan, pengalaman, dan kondisi sosial.


REFERENSI

Berikut contoh daftar pustaka menggunakan APA Style, sebagaimana Anda minta:

Buku & Jurnal:

Damasio, A. (1994). Descartes’ Error: Emotion, Reason, and the Human Brain. Putnam Publishing.

Geertz, C. (1973). The Interpretation of Cultures. Basic Books.

Skinner, B. F. (1953). Science and Human Behavior. Macmillan.

Al-Qur’an:

Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Al-Qur’an dan Terjemahannya. Kemenag RI.