1. Ideologi dan tujuan besar membuat komunitas menarik
HT (dan di Indonesia dikenal sebagai Hizbut Tahrir Indonesia – HTI) memiliki tujuan ideologis besar: mendirikan kembali kekhalifahan Islam sebagai sistem politik global dan menggantikan sistem negara bangsa.
Karena tujuan ini relatif luas dan memerlukan kesadaran ideologis, HT/HTI berusaha menanamkan gagasan tersebut sejak dini melalui komunitas-komunitas dakwah. Komunitas menjadi sarana untuk menyebarkan ideologi secara sistematis ke anggota dan calon anggota.
2. Metode dakwah dan “pembinaan” yang mirip komunitas
HTI menggunakan metode dakwah yang terstruktur: bukan sekadar ceramah tunggal, tetapi melalui proses “pembinaan” (tatsqif), interaksi rutin, pengkajian, dan pembentukan kader.
Dengan komunitas, HTI bisa melakukan “tatsqif hos” (pembinaan khusus untuk anggota/simpatisan) dan “tatsqif amm” (pembinaan umum masyarakat). Model ini memungkinkan HTI untuk membentuk loyalitas, identitas bersama, dan internalisasi ideologi secara mendalam.
3. Efektivitas dalam merekrut anggota melalui jejaring informal
Penelitian menunjukkan bahwa HTI sering merekrut anggota melalui jaringan informal — bukan lewat perekrutan terbuka massal — terutama setelah tindakan pelarangan.
Misalnya melalui lingkungan kampus (organisasi mahasiswa, lembaga dakwah kampus), masjid, bahkan komunitas kajian privat.
Model seperti ini memungkinkan perekrutan lebih “aman”, tidak terlalu mencolok, dan meminimalisir pengawasan atau penolakan langsung dari publik.
4. Adaptasi strategi setelah pelarangan resmi
Setelah HTI dibubarkan di Indonesia (melalui regulasi/Perppu Ormas 2017), mereka harus menyesuaikan metode rekrutmen agar bisa tetap aktif tanpa terdeteksi secara mudah.
Strateginya: beralih dari metode terbuka ke metode tertutup — komunitas kecil, jaringan informal, aktivitas dakwah dalam kelompok kecil, dan penggunaan media daring (online) untuk propaganda dan konsolidasi.
Dengan komunitas kecil dan informal, mereka bisa menjaga kerahasiaan, menghindari deteksi, dan tetap memperluas jaringan ke kalangan baru (mahasiswa, remaja, komunitas dakwah lokal).
5. Membangun identitas kolektif dan sense of belonging bagi anggota
Komunitas menyediakan ruang bagi anggota untuk merasakan “kebersamaan”, memiliki identitas yang sama, dan rasa bahwa mereka bagian dari suatu gerakan besar. Hal ini membantu membentuk komitmen kuat terhadap ideologi HT. Penelitian di Sulawesi Selatan misalnya menunjukkan bahwa proses masuk HTI melalui tahapan: “cognitive opening – religious seeking – socialization” dalam komunitas dakwah.
Lewat komunitas juga terjadi sosialisasi nilai-nilai HT secara intensif, sehingga anggota merasa terikat, loyal, dan terdorong untuk aktif.
Risiko, Kritik, dan Dampak Strategi Komunitas HT
Karena perekrutan sering dilakukan lewat jaringan informal dan komunitas tertutup, kontrol publik dan pengawasan sulit dilakukan — hal ini menimbulkan kekhawatiran terkait transparansi, radikalisasi, atau pengaruh ideologi ekstrem.
Komunitas (termasuk di kampus atau masjid) bisa merekrut individu yang secara sosial atau religius sedang mencari identitas — hal ini menjadikan mereka rentan terhadap doktrin kuat dan pencerahan ideologis yang bisa “mengunci” cara pandang mereka terhadap dunia.
Setelah pelarangan, aktivitas HT/HTI tetap bisa berlanjut di bawah radar — melalui komunitas kecil, online, atau lembaga dakwah independen — membuat mitigasi dan deradikalisasi menjadi semakin sulit.
Penulisan Referensi (Sitasi)
Contoh referensi untuk artikel/jurnal yang saya pakai di atas:
Haq, A. M. I. (2023). Hizbut Tahrir Indonesia’s (HTI) Efforts the Idea of Caliphate and Recruit Members after being Banned by the Government. Islam Transformatif : Journal of Islamic Studies, 7(1), 72–86. https://doi.org/10.30983/it.v7i1.6188
Rijal, S. (2009). Making Hizbiyyin: Hizbut Tahrir in South Sulawesi. The Australian National University.
Komunikasi Penyiaran Islam, Lutfi, M., Sobari, A., & Rofi’ah, R. (2019). Konsep Pembinaan Hizbut Tahrir dan Dampaknya Terhadap Akhlak Remaja di Kota Bogor. Komunika: Journal of Communication Science and Islamic Dakwah, 5(1), 1–10. https://doi.org/10.32832/komunika.v5i1.5416
Rahman, M. T., Bukhori, B., & Setia, P. (2023). Hizbiyyah and Hizbut Tahrir Indonesia’s New Member Recruitment Strategy After Disbandment. Fikrah: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan.
Catatan: untuk penulisan daftar pustaka lengkap, tulis semua detail seperti tahun, judul artikel, nama jurnal, volume/edisi, halaman, dan DOI (jika tersedia), seperti contoh di atas.
Kesimpulan
Strategi komunitas bagi HT/HTI bukanlah kebetulan — melainkan bagian penting dari metode dakwah dan perekrutan mereka. Dengan komunitas, mereka bisa menanamkan ideologi secara sistematis, membangun identitas kolektif, mempermudah rekrutmen lewat jejaring informal, dan beradaptasi — terutama setelah pelarangan resmi. Hal ini membuat komunitas menjadi alat efektif bagi HT/HTI untuk mempertahankan eksistensi dan memperluas pengaruh, bahkan dalam kondisi tertutup.