Kenapa Hizbut Tahrir Merekrut Lewat Organisasi Rohis dan Organisasi Agama di Kampus?

Pendahuluan

Hizbut Tahrir (HT/HTI) dikenal sebagai gerakan transnasional yang menekankan pembentukan sistem khilafah. Sejak kehadirannya di Indonesia, kampus menjadi salah satu arena strategis untuk menyebarkan ideologi dan merekrut anggota. Salah satu jalur yang sering mereka gunakan adalah organisasi rohis, Lembaga Dakwah Kampus (LDK), dan berbagai komunitas kajian Islam mahasiswa. Ada sejumlah alasan mengapa HT memilih jalur tersebut.

1. Akses ke Kelompok Usia yang Rentan dan Berpotensi Menjadi Kader Jangka Panjang

Mahasiswa berada pada fase pencarian jati diri, sehingga lebih terbuka terhadap ide-ide baru, termasuk gagasan politik-keagamaan. Rohis menyediakan lingkungan belajar yang intens, nyaman, dan bersifat kekeluargaan, sehingga menjadi lahan ideal bagi gerakan ideologis untuk membentuk kader jangka panjang.

2. Legitimasi Agama dan Jalur Soft Entry

Melalui rohis, materi dakwah disampaikan secara bertahap—mulai dari kajian akidah, akhlak, hingga perlahan masuk ke isu politik seperti khilafah. Metode ini memberi citra bahwa ide HT adalah bagian dari ajaran agama, bukan agenda politik.

3. Jaringan, Struktur Informal, dan Efektivitas Komunikasi

Rohis memiliki jaringan internal yang kuat: pengurus, mentor, senior, dan alumni. HT memanfaatkan struktur ini untuk membuat kelompok kajian kecil (halaqah), mentoring, dan perekrutan berjenjang, yang jauh lebih efektif dibanding propaganda terbuka.

4. Kepercayaan Interpersonal dan Pengaruh Teman Sebaya

Mahasiswa cenderung percaya pada teman sendiri atau senior di organisasinya. Saat ajakan datang dari orang yang sudah dikenal dan dipercaya, tingkat keberhasilan perekrutan meningkat. Kegiatan bersama seperti training, camp, dan bakti sosial juga memperkuat ikatan emosional yang memudahkan internalisasi ide HT.

5. Eksploitasi Keresahan Sosial dan Kekosongan Narasi Moderat

Ketika mahasiswa merasa gelisah dengan kondisi politik atau sosial, HT menawarkan solusi total berupa sistem khilafah. Narasi ini terasa sederhana dan meyakinkan bagi mereka yang mencari jawaban cepat terhadap masalah kompleks. Di banyak kampus, narasi moderat sering kurang terorganisasi, sehingga celah ini dimanfaatkan HT.

6. Adaptasi Setelah Pembubaran HTI

Setelah HTI dibubarkan pemerintah, aktivitas mereka bergeser ke pola rekrutmen tertutup dan berbasis jaringan kecil. Rohis menjadi tempat yang sulit dibedakan antara dakwah umum dan dakwah ideologis, sehingga tetap menjadi saluran efektif.

Kesimpulan

Hizbut Tahrir memilih rohis dan organisasi agama kampus karena alasan strategis: akses ke mahasiswa, legitimasi dakwah, jaringan interpersonal yang kuat, dan efektivitas rekrutmen lewat kelompok kecil. Upaya pencegahan yang efektif perlu memperkuat narasi moderat, meningkatkan literasi keagamaan, serta menyediakan ruang aman bagi mahasiswa untuk berdiskusi tanpa harus terjebak pada ideologi ekstrem.

Daftar Referensi (Format APA)

  • Muhtadi, B. (2009). The Quest for Hizbut Tahrir in Indonesia. Diakses dari publikasi akademik terkait.
  • RSIS. (2009). Hizbut Tahrir Indonesia: Mobilization Strategy and Its Targets. S. Rajaratnam School of International Studies.
  • Haq, A. M. I. (2023). Hizbut Tahrir Indonesia’s (HTI) efforts: The idea of caliphate and recruit members after being banned by the government. Islam Transformatif, 7(1), 72–xx.
  • Rijal, S. (2011). Dakwah and Recruitment of Hizbut Tahrir Indonesia. Publikasi akademik.
  • The Globe Post. (2017, November 27). Indonesia: Combating Radicalism Among the Younger Generation.
  • DOAJ/ResearchGate. (n.d.). Hizbiyyah and Hizbut Tahrir: Indonesia's New Member Recruitment Strategy After Disbandment.