Kenapa Hizbut Tahrir Merekrut Tokoh NU

Penjelasan

1. Latar belakang ideologis HTI dan strategi kaderisasi

HTI adalah organisasi pan-Islam transnasional yang tujuan utamanya mendirikan kembali sistem kekhalifahan Islam di seluruh dunia.

Untuk menyebarkan ideologi ini, HTI menggunakan metode dakwah sistematis: dari pembinaan/kaderisasi (tatsqif), interaksi dengan masyarakat (tafa’ul), sampai upaya merebut kekuasaan (istilām al-hukm).

Karena Indonesia secara tradisional kuat dengan dua ormas besar Islam — NU dan Muhammadiyah — HTI melihat “celah” di antara kalangan Muslim di Indonesia untuk merekrut anggota, termasuk dari latar belakang NU.

2. NU sebagai basis potensial: kesamaan asal-usul & kemudahan pendekatan melalui LDK/pesantren

Banyak anggota/aktivis awal HTI di Indonesia berasal dari latar belakang NU — misalnya dari desa NU di Jawa Timur atau Jawa Tengah.

Saat masuk ke perguruan tinggi, beberapa dari mereka kemudian “beralih” ke HTI melalui jaringan dakwah kampus atau Lembaga Dakwah Kampus (LDK). Ini memungkinkan HTI “menyerap” kaum muda NU tanpa harus secara terang-terangan menolak identitas NU — melainkan mengemas dakwah HTI ke dalam wadah baru.

Dengan demikian, bagi HTI, merekrut tokoh/anggota NU memungkinkan mereka mendapatkan: budaya keagamaan tradisional (pesantren), basis sosial — sekaligus potensi kader muda (mahasiswa) yang bisa diarahkan ke ideologi HTI.

3. Upaya HTI “mengaburkan” batas ideologis: mengklaim persamaan dengan sejarah NU

Salah satu strategi propaganda HTI adalah mengklaim bahwa pendiri NU, misalnya KH Hasyim Asy’ari, memiliki “keterkaitan pemikiran” dengan pemikir HTI, yakni Taqi al‑DIn al‑Nabhani — dengan merujuk pada riwayat guru-murid di Mekkah. HTI menggunakan klaim ini untuk meyakinkan tokoh NU atau kaum Nahdliyin bahwa perjuangan HTI sejajar dengan NU.

HTI juga kadang memakai simbolisme atau interpretasi ulang atas simbol tradisional NU (misalnya lambang globe di logo NU) sebagai bagian dari strategi “membenarkan” visi kekhalifahan — untuk menarik simpatisan NU.

4. Motivasi pragmatis: memperluas basis massa dan pengaruh politik

Karena NU adalah ormas Islam terbesar di Indonesia dengan jaringan luas dari pesantren hingga masyarakat akar rumput, bagi HTI, merekrut tokoh atau anggota NU berarti membuka akses ke basis massa besar, legitimasi sosial, dan jaringan sosial — yang bisa mendukung penyebaran ideologi HTI.

Rekrutmen dari kalangan NU juga bisa membantu HTI meminimalisir kesan eksklusif, ekstrem, atau asing — karena menggunakan wajah “Muslim tradisional Indonesia” (NU) yang bagi sebagian masyarakat lebih dekat dan diterima.


Konteks & Resistensi dari NU

NU secara resmi menolak ide dan gerakan HTI, karena ide khilafah yang diusung HTI bertentangan dengan komitmen kebangsaan NU terhadap negara kesatuan (NKRI) dan Pancasila.

Dalam literatur NU sendiri disebut bahwa klaim HTI menyamakan visi antara pendiri NU dan pemikir HTI adalah keliru. Misalnya, simbol lambang globe NU bukan untuk khilafah global, melainkan lambang ukhuwah. Dan keputusan historis seperti fatwa “Resolusi Jihad 1945” oleh KH Hasyim Asy’ari menegaskan patriotisme dan pembelaan tanah air — bukan bentuk dukungan terhadap khilafah global.

Oleh karena itu, NU — dan banyak kalangan Islam moderat di Indonesia — memandang HTI sebagai ancaman ideologis terhadap pluralisme, demokrasi, dan keindonesiaan.


Kesimpulan Sementara

HTI merekrut tokoh atau anggota dari NU karena:

NU dianggap sebagai basis sosial dan jaringan keagamaan yang kaya — cocok untuk memperluas basis massa dan pengaruh HTI.

Banyak kader muda dari latar belakang NU (pesantren) yang kemudian masuk ke perguruan tinggi — sehingga HTI mengincar mereka melalui LDK/pesantren kampus sebagai pintu masuk ideologi HTI.

HTI menggunakan strategi ideologis dan simbolik (misalnya klaim persamaan dengan pendiri NU) untuk menarik simpatisan NU.

Walau ada upaya perekrutan demikian, NU secara organisasi menolak HTI karena perbedaan mendasar dalam visi: NU mendukung NKRI & Pancasila, HTI menolak keduanya demi khilafah.


Referensi

  • “Upaya HTI Cari Pembenaran Khilafah dari Pendiri NU” — NU Online opini. 16
  • “Mengenal Hizbut Tahrir (Studi Analisis Ideologi Hizbut Tahrir vis a vis NU)” — Islamuna Journal. 17
  • “The Quest for Hizbut Tahrir in Indonesia” — Muhtadi (2009). 18
  • “Hizbut Tahrir Dimana-mana Ditolak” — NU Online. 19
  • “Hizbut Tahrir Indonesia and the Idea of Restoring Islamic Caliphate” — I. Kartini (2015). 20

Kalau kamu mau — saya bisa susun timeline konkret (historis) daftar tokoh NU yang direkrut atau didekati HTI (nama + periode + outcome), untuk menunjukkan seberapa luas dan berhasil strategi ini. Mau saya buatkan?