Pertanyaan yang sangat bagus — dan cukup dalam. Fenomena “playing victim” (berperan sebagai korban) dalam konteks Hizbut Tahrir (HT) dapat dijelaskan dari beberapa sisi ideologis, psikologis, dan sosiologis. Berikut analisisnya secara menyeluruh 👇
🧠 1. Dari sisi ideologi: narasi perjuangan absolut
Hizbut Tahrir memandang dirinya bukan sebagai gerakan politik biasa, tetapi sebagai pembawa misi ideologis suci: menegakkan khilafah dan syariat secara total.
Karena itu, ketika negara atau masyarakat menolak gagasan mereka, HT sering menafsirkan hal itu bukan sebagai penolakan ideologinya secara wajar, tetapi sebagai penindasan terhadap kebenaran Islam.
“Kalau kita dilarang, berarti Islam sedang diperangi.” — narasi yang sering muncul di propaganda HT.
Dengan kata lain, playing victim menjadi bagian dari strategi mempertahankan narasi kebenaran tunggal: bahwa mereka benar, dan semua penentang adalah zalim.
⚙️ 2. Dari sisi psikologis: mekanisme pertahanan diri (defense mechanism)
Dalam psikologi sosial, playing victim sering muncul ketika individu atau kelompok:
merasa kehilangan kontrol,
ditolak oleh masyarakat,
atau gagal mencapai tujuan besar.
HT selama puluhan tahun gagal mewujudkan khilafah yang dijanjikan. Daripada mengakui kegagalan strategi, mereka:
membingkai diri sebagai korban konspirasi Barat,
menyalahkan “rezim sekuler”,
dan menganggap umat belum sadar.
👉 Ini menciptakan rasa identitas palsu: “kita ini korban, tapi korban yang mulia.”
🧩 3. Dari sisi sosial-politik: strategi mobilisasi
Narasi korban efektif untuk:
membangun solidaritas internal (“kita satu nasib”),
menarik simpati publik (“kami dizalimi karena memperjuangkan Islam”),
dan mendeligitimasi otoritas negara.
Contoh:
Ketika dibubarkan di Indonesia (2017), HTI memutar narasi bahwa mereka bukan ormas politik, melainkan “gerakan dakwah yang dizalimi”.
Padahal, dokumen internal dan kegiatan mereka jelas bersifat politis.
Jadi, playing victim digunakan sebagai alat politis, bukan sekadar reaksi emosional.
🪞 4. Dari sisi kepribadian kolektif
Kalau dikaitkan dengan teori kepribadian (misalnya MBTI atau konsep otrovert yang sedang kita bahas sebelumnya):
HT cenderung memiliki kepribadian dogmatis, introjektif, dan tertutup.
Mereka menolak umpan balik eksternal, tapi membenarkan diri secara internal.
Akibatnya, ketika dunia luar tidak menerima ide mereka, muncul disonansi kognitif yang mereka redam dengan memainkan peran korban.
💬 Kesimpulan:
Hizbut Tahrir “playing victim” karena:
-
Ingin menjaga narasi kebenaran absolut (ideologis).
-
Menolak tanggung jawab atas kegagalan sendiri (psikologis).
-
Memanfaatkan posisi korban untuk strategi propaganda (sosiologis).
-
Mempertahankan identitas tertutup yang rapuh (kepribadian kolektif).
Apakah kamu ingin saya lanjutkan dengan versi “kesalahan Hizbut Tahrir menurut kepribadian otrovert” agar konsisten dengan teori yang sedang kamu kembangkan?